Sabtu, 24 Agustus 2013

Kartini dan "Dari Gelap terbitlah terang" dari ayat Allah untuk kemajuan bangsa



Raden Ajeng Kartini atau lebih sering terkenal dengan R.A Kartini merupakan sosok pelopor perempuan Indonesia dengan ke Khas an kultur Jawa yang memang melekat karena masih termasuk golongan priyayi. Beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun. Usia yang sangat muda dan telah menjadi motor penggerak perempuan pada masa penjajahan Belanda.
Sejatinya, Kartini adalah muslimah sejati yang sangat ingin mengetahui islam secara mendalam melalui Alquran. Suatu ketika Kartini menemui ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para raden ayu yang lain, dari balik tabir. Kartini tertarik pada materi pengajian yang disampaikan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, yaitu tentang tafsir Al-Fatihah. Setelah selesai acara pengajian Kartini meminta pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Inilah dialog antara Kartini dan Kyai Sholeh Darat, yang ditulis oleh Nyonya Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat :
"Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?"
Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukan secara diplomatis itu.
"Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?". Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh pertanyaan Kartini pernah terlintas dalam pikirannya.
"Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"
Setelah pertemuannya dengan Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh Darat menghadiahkan kepadanya terjemahan Al-Quran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid pertama yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat Al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga Al-Quran tersebut belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Quran) maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap muslimahnya. Terbukti Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankah pada mulanya beliau paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, beliau dapat menerimanya. Saat mempelajari Al-Islam lewat Al-Quran terjemahan berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah ayat 257 bahwa ALAH-lah yang telah membimbing orang-orang beriman dari gelap kepada cahaya (Minazh-Zhulumaati ilan Nuur). Rupanya, Kartini terkesan dengan kata-kata Minazh-Zhulumaati ilan Nuur yang berarti dari gelap kepada cahaya.
Surat-surat Kartini yang dikirim kepada sahabatnya di Belanda banyak memunculkan kalimat Minazh Zhulumaati Ilannur menjadi bahasa belanda "Door Duisternis Tot Licht"  dimana kalimat tersebut adalah petikan dari ayat-ayat Alqur'an. Beberapa waktu kemudian  kata-kata tersebut kini sudah teradopsi oleh terjemahan Armijn Pane menjadi " Habis Gelap Terbitlah Terang" pada judul kumpulan surat-surat Kartini yang secara maknawi sudah mengalami kehilangan makna. Kartini adalah wanita sejati yang berdedikasi dalam mendidik perempuan-perempuan pribumi daerah Jepara dan Rembang khususnya agar menjadi lebih cerdas seiring perkembangan zaman.

Peninggalan pemikiran beliau tertuangkan dalam surat-surat yang rajin beliau tulis kepada sahabatnya di Belanda yang menitik beratkan pada kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan yang pada waktu itu perempuan dipandang hanya sebagai "konco wengking" atau hanya sebagai pelengkap . Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).

Kini, R.A Kartini sudah tiada namun perjuangannya untuk kemajuan perempuan pada masa itu sungguh luar biasa meski memang kartini belum pernah berjuang "angkat senjata" melawan Belanda. Perjuangannya kini diabadikan menjadi memorial nama jalan, nama pantai di Jepara, bahkan menjadi ikon nama jalan di beberapa kota di Belanda. Perjuangan Kartini perlu dipahami sebagai pecut semangat perempuan masa kini yang sudah banyak memiliki kebebasan dan peningkatan kualitas pendidikan yang sudah mapan. Momen Hari Kartini bisa menjadi penyemangat perempuan dengan modernitas dan intelektualitas untuk membangun bangsa dan negara.


by : http://www.tebuireng.org/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar